Rabu, 23 November 2011

Tentang Keislaman di Indonesia

Opini: Keislaman Indonesia
Oleh Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta


Sebuah penelitian sosial bertema ”How Islamic are Islamic Countries” menilai Selandia Baru berada di urutan pertama negara yang paling islami di antara 208 negara, diikuti Luksemburg di urutan kedua. Sementara Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim menempati urutan ke-140.

Adalah Scheherazade S Rehman dan Hossein Askari dari The George Washington University yang melakukan penelitian ini. Hasilnya dipublikasikan dalam Global Economy Journal (Berkeley Electronic Press, 2010). Pertanyaan dasarnya adalah seberapa jauh ajaran Islam dipahami dan memengaruhi perilaku masyarakat Muslim dalam kehidupan bernegara dan sosial?

Ajaran dasar Islam yang dijadikan indikator dimaksud diambil dari Al Quran dan hadis, dikelompokkan menjadi lima aspek. Pertama, ajaran Islam mengenai hubungan seseorang dengan Tuhan dan hubungan sesama manusia. Kedua, sistem ekonomi dan prinsip keadilan dalam politik serta kehidupan sosial. Ketiga, sistem perundang-undangan dan pemerintahan. Keempat, hak asasi manusia dan hak politik. Kelima, ajaran Islam berkaitan dengan hubungan internasional dan masyarakat non-Muslim.

Setelah ditentukan indikatornya, lalu diproyeksikan untuk menimbang kualitas keberislaman 56 negara Muslim yang menjadi anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), yang rata-rata berada di urutan ke-139 dari sebanyak 208 negara yang disurvei.

Pengalaman UIN Jakarta

Kesimpulan penelitian di atas tak jauh berbeda dari pengalaman dan pengakuan beberapa ustaz dan kiai sepulang dari Jepang setelah kunjungan selama dua minggu di Negeri Sakura. Program ini sudah berlangsung enam tahun atas kerja sama Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, dengan Kedutaan Besar Jepang di Jakarta.

Para ustaz dan kiai itu difasilitasi untuk melihat dari dekat kehidupan sosial di sana dan bertemu sejumlah tokoh. Setiba di Tanah Air, hampir semua mengakui bahwa kehidupan sosial di Jepang lebih mencerminkan nilai-nilai Islam ketimbang yang mereka jumpai, baik di Indonesia maupun di Timur Tengah. Masyarakat terbiasa antre, menjaga kebersihan, kejujuran, suka menolong, dan nilai-nilai Islam lain yang justru makin sulit ditemukan di Indonesia.

Pernyataan serupa pernah dikemukakan Muhammad Abduh, ulama besar Mesir, setelah berkunjung ke Eropa. Saya lebih melihat Islam di Eropa, tetapi kalo orang Muslim banyak saya temukan di dunia Arab, katanya.


Kalo saja yang dijadikan indikator penelitian untuk menimbang keberislaman masyarakat itu ditekankan pada aspek ritual-individual, saya yakin Indonesia menduduki peringkat pertama menggeser Selandia Baru. Jumlah yang pergi haji setiap tahun meningkat, selama Ramadhan masjid penuh dan pengajian semarak dimana-mana. Tidak kurang dari 20 stasiun televisi di Indonesia setiap hari pasti menyiarkan dakwah agama. Terlebih lagi selama bulan Ramadhan, hotel pun diramaikan oleh tarawih bersama. Ditambah lagi yang namanya ormas dan parpol Islam yang terus bermunculan.

Namun, pertanyaan yang kemudian dimunculkan oleh Rehman dan Askari bukan semarak ritual, melainkan seberapa jauh ajaran Islam itu membentuk kesalehan sosial berdasarkan ajaran Al Quran dan Hadis.

Contoh perilaku sosial di Indonesia yang sangat jauh dari ajaran Islam adalah maraknya korupsi, sistem ekonomi dengan bunga tinggi, kekayaan tidak merata, persamaan hak bagi setiap warga Negara untuk memperoleh pelayanan Negara dan untuk berkembang, serta banyak aset sosial yang mubazir. Apa yang dikecam ajaran Islam itu ternyata lebih mudah ditemukan di masyarakat Muslim ketimbang negara-negara Barat. Kedua peneliti itu menyimpulkan:

it is our belief that most self-declared and labeled Islamic countries are not conducting their affairs in accordance with Islamic teachings at least when it
comes to economic, financial, political, legal, social and government policies.

Dari 56 negara anggota OKI, yang memperoleh nilai tertinggi adalah Malaysia (urutan ke-38), Kuwait (48), Uni Emirat Arab (66), Maroko (119), Arab Saudi (131), Indonesia (140), Pakistam (147), dan terburuk adalah Somalia (206).

Negara barat yang dinilai mendekati nilai-nilai Islam adalah Kanada di urutan ke-7, Inggris (8), Australia (9), dan Amerika Serikat (25).

Sekali lagi, penelitian ini tentu menyisakan banyak pertanyaan serius yang perlu juga dijawab melalui penelitian sebanding. Jika masyarakat atau negara Muslim korup dan represif, apakah kesalahan ini lebih disebabkan oleh perilaku masyarakatnya atau pada sistem pemerintahnya? Atau akibat sistem dan kultur pendidikan Islam yang salah? Namun, satu hal yang pasti, penelitian ini menyimpulkan bahwa perilaku sosial, ekonomi, dan politik negara-negara anggota OKI justru berjarak lebih jauh dari ajaran Islam dibandingkan negara-negara non-Muslim yang perilakunya lebih Islami.

Semarak dakwah dan ritual

Hasil penelitian ini juga menyisakan pertanyaan besar dan mendasar: mengapa semarak dakwah dan ritual keagamaan di Indonesia tidak mampu mengubah perilaku sosial dan birokrasi sebagaimana yang diajarkan Islam, yang justru dipraktikkan di negara-negara sekuler?

Tampaknya keberagamaan kita lebih senang di level dan semarak ritual untuk mengejar kesalehan individual, tetapi menyepelekan kesalehan sosial. Kalau seorang Muslim sudah melaksanakan lima rukun Islam shahadat, shalat, puasa, zakat, haji dia sudah merasa sempurna. Semakin sering berhaji, semakin sempurna dan hebatlah keislamannya. Padahal misi Rasulullah itu datang untuk membangun peradaban yang memiliki tiga pilar utama: kelimuan, ketakwaan, dan akhlak mulia atau integritas. Hal yang terakhir inilah, menurut Rehman dan Askari, dunia Islam mengalami krisis.

Sekali lagi, kita boleh setuju atau menolak hasil penelitian ini dengan cara melakukan penelitian tandingan. Jadi jika ada pertanyaan: How Islamic are Islamic Political Parties?, menarik juga dilakukan penelitian dengan terlebih dahulu membuat indikator atau standar berdasarkan Al Quran dan Hadis. Lalu diproyeksikan juga untuk menakar keberislaman perilaku partai-partai yang mengusung simbol dan semangat agama dalam perilaku sosialnya.

Sumber : kompas.com

KARIMUNJAWA




Sabtu, 19 November 2011

Kenapa Pengusaha ???

"PENGUSAHA" sebuah pilihan profesi yg kini banyak diminati dan memang seharusnya begitu. sudah saatnya kita menjadi bangsa yang mandiri dengan menciptakan entrepreneur-entrepreneur baru terutama dikalangan pemuda.
Dulu sewaktu saya masih duduk di bangku SMA tidak sedikitpun terlintas di benak saya untuk menjadi seorang pengusaha. Saya berasumsi pengusaha identik dengan orang kaya yang sombong, sehingga pada waktu itu cita-cita saya adalah menjadi seorang ilmuan, yah karena pda waktu ityu saya pikir ilmuan adalah pekerjaan yang mulia ia bisa menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi hidup manusia seperti mbah Einstein :). Dan sekarang cita-cita saya ingin mnjadi pengusaha why? kok bisa berubah 180 derajat gitu? ingin tahu? sabar ya?? hehe sambil minum kopi dulu boleh :)
Okey saya lanjutkan, jadi begini , pasca lulus SMA itu saya agak sedikit dilema jiahh... :D. Jadi waktu itu saya dapat tawaran beasiswa kuliah perhotelan tappi tidak saya ambil karena disamping tidak sesuai minat juga terbentur biaya karena orang tua tidak mampu membiayai kuliah. Akhirnya saya memutuskan untuk merantau dan bekerja di Jakarta. Karena saya hanya lulusan SMA jadi pertamakali saya bekerja sebagai penjaga counter pulsa dan hp. Sekitar 3 bulan bekerja saya diuji oleh Allah, saya kehilangan voucher isi ulang pulsa senilai 5 juta lebih dan akhirnya saya harus mengganti sebesar 3 juta. Rasanya seperti disambar petir ketika peristiwa ityu terjadi tapi saya bisa apa??saya hanya gadis kampung yang baru merantau ke Jakarta dan belum mengerti betul kehidupan di Jakarta. 3 hari 3 malam saya tidak bisa tidur cuma ada tangisan penyesalan dan rasa bersalah, saya tidak tega kalau sampai orangtua saya tahu akan hal ini. Namun akhirnya mereka mengetahuinya dari saudara saya. Singkat cerita akhirnya gaji saya tiap bulan dipotong sebesar 500 ribu untuk  melunasi hutang saya. Hmmm...kok jadi curcol yah?? gak sesuai sama judjulnya hehe
Oke oke kali ini sesuai judul :) Alhamdulillah Allah menjadikan saya orang yang bisa memotivasi diri sendiri, saya tidak pernah putus asa, saya percaya kebesaran Allah bahwa Bersama kesulitan pasti ada kemudahan hingga saya bertemu dengan buku 7 Keajaiban Rezeki karya Ippho Santosa. Subhanallah, setelah membaca buku itu hati saya terbuka dan saya pun tidak segan menghubungi pak Ippho untuk berkonsultasi dan Alhamdulillah ada pencerahan :). Dari peristiwa itu saya bertekad untuk jadi pengusaha, bukankah nabi Muhammad juga seorang pedagang alias pengusaha?? yah...9 dari 10 pintu rezeki itu ada pada perdagangan jadi kenapa malu berdagang?? bukankah Allah lebih menyukai muslim yang kuat imannya juga kuat nafkahnya?? sayangnya masyarakat kita kebanyakan menganggap kaya itu identik dengan sombong, angkuh, padahal nggak begitu kita harus bercita2 untuk kaya dan mengayakan, sederhana itu dalam bersikap :)